Sunday, December 10, 2017



Menelusuri Sumber-Sumber

Musibah Dalam Hidup
(3)

4.      Nafsu pun Bisa Jadi Sumber Masalah

Ketahuilah bahwa mengumbar nafsu itu merupakan salah satu pengkal kesengsaraan. Secara ekplisit Nabi Muhammad SAW pernah menjelaskan bahwa memerangi hawa nafsu adlaah kunci kebahagiaan sedangkan menuruti hawa nafsu adalah kunci kesengsaraaan. Dalam hal ini Nabi bersabda :

“Barang siapa yang menentang hawa nafsunya, maka surge adalah tempatnya, dan barang siapa mengikuti hawa nafsunya, maka neraka ganjarannya”.

Surga dan neraka makna aslinya tempat balasan bagi manusia yang sudah disediakan oleh Allah di akhirat. Namun kata surga dan neraka juga bisa diartikan secara kinayah atau kiasan sebagai kebahagian dan kesengsaraan di dunnia.

5.      Jauh Dari Allah Jauh Dari Kebahagiaan

Ketahuilah bahwa ibadah, dalam bentuk apapun akan menyebakan kebahagiaan, sementara kemaksiatan (Dosa) sekecil apapun akan menumbuhkan sengsara bagi pelakunya. Atas dasar ini lah mengapa Nabi Muhammad memberikan konsep tentang dosa sebagai “Sesuatu yang akan menjadi ganjalan didalam hati dan akan menjadi sesuatu yang memalukan bagi sang pelaku jika sampai dosa itu di ketahui oleh orang lain”. Inilah konsep dosa, sementara konsep ibadah, secara eksplisit telah dinyatakan Al-Qu’ran lewat penjelasan tentang dzikir; “ Ingatlah bahwa dzikir akan menentramkan jiwa”. Pendek kata, lewat dua konsep itu bisa disimpulkan bahwa perbuatan manusia sebagaimana pun juga akan berpengaruh pada sisi psikologi, bahwa ibadah akan menentramkan jiwa, sementara maksiat atau dosa akan menyesengsarakan hati. Kenyataan ini pada kesimpulan akhir bisa dikatan bahwa dekat dengan Allah akan menyebabkan kebahagiaan sementara jauh dari Allah akan menjadi penyebab kesengsaraan. Jadi kebaikan dan kesengsaraan hidup sebenarnya terletak pada posisi kita dengan Allah, dekat dengan-Nya atau Jauh dengan-Nya.


Menelusuri Sumber-Sumber
Musibah Dalam Hidup
(2)

2.      Mungkin Kita Pernah Bersalah Sama Orang Lain

Jika dilihat dari objek nya, dosa dibagi dua macam, yaitu dosa kepada Allah dan dosa kepada sesama manusia. Bila dibandingkan dosa pertama dan kedua, maka dosa yang kedua dinilai sulit untuk dihapus. Mengapa demikian? Sebab dosa kepada Allah lebih mudah diampuni selagi seseorang itu mau tulus ikhlas memohon ampun kepada-Nya yang dibarengi dengan niatan tobat.

Kalau Allah begitu mudah mengampuni dosa-dosa yang dilakukan hambanya maka tidak demikian dengan seseorang untuk memberi maaf kepada orang lain. Jika seseorang punya dosa kepada orang lain , selagi orang tersebut  tidak memberikan maaf, maka Allah pun tak akan menghapus dosa orang tersebut. Disinilah letak kesulitan untuk menghapus nya. Kalau Allah Maha Pengampunan terhadap kesalahan hamba, maka sifat ini tidak dimiliki  oleh  manusia. Seseorang lebih sulit memberikan maaafnya kepada orang lain, apalagi jika dosa yang dilakukan seseorang itu teramat menyakitkan hati.

Dosa kepada sesama manusia bukan hanya berdampak di akhirat tetapi boleh jadi juga akan memunculkan adzab sengsara didunia. Dan ini banyak fakta yang menunjukan demikian, bahwa perbuatan dzhalim yang dilakukan seseorang terhadap orang lain akan mengakibatkan kesengsaraan hidup bagi sang pelaku dzhalim itu sendiri. Fenomena seperti itu oleh orang jawa sering disebut “Kualat” (Hukum Karma), yakni mendapat bencana hidup akibat kesalahan dan dosa kepada orang lain.Sadarlah bahwa jauh jauh hari Nabi Muhammad SAW sendiri sudah mengingatkan kita akan bahaya tindak aniaya terhadap orag lain.

“Takutlah kalian terhadap doa orang-orang yang teraniaya, meskipun orang itu seorang yang kafir, sebab sesungguhnya (Do’a orang teraniaya) dengan Allah tidak ada penghalang”

Sungguh Allah tak main-main membela orang yang terdzhalimi, orang-orang yang teraniaya, dan orang yang tertindas oleh kesewenang-wenangan dan ketidak adilan orang lain. Allah akan segera memberikan pertolongan kepada mereka yang menjerit lantaran dianiaya seseorang. Siapapun orangnya, jika ia benar-benar diperlakukan kesewenang-wenangan oleh orang lain, maka Alah akan hadirkakn pertolongan.

3.      Apakah Semua Itu Tidak Karena Kebodohan Kita

Adanya musibah atau kegagalan dalam hidup sebenarnya bisa di-jadikan sebagai koreksi diri. Apakah musibah dan kegagalan itu benar-benar ketetapan Tuhan atau bukan. Jika memang hal itu bukan merupakan ketetapan Tuhan yang harus dijalani, maka kemungkinannya ada bermacam-macam, dan salah satunya adalah akibat kebodohan kita sendiri.  Dalam hal ini yang salah bukan siapa-siapa, tetapi KITA !

Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri”(QS. Yunus: 44).

Selama ini, bentuk-bentuk kegagalan, kenistaan, dan kemelaratan hidup yang dialimi manusia sering kali dianggap sebagai suratan takdir Tuhan yang harus diterima oleh manusia sengan sikap pasrah yangpasif. Manusia mungkin sadar bahwa persepsi yang demikian itu sama dengan su’udzan kepada Allah, bahkan, pada tingkat yang fatal manusia telah menuduh dan menyalahkan Allah, “Allah lah dibalik semua kegagalan ini”.

Subhanallah! Sabarkan hati Anda! Allah membantu tuduhan itu dengan firman-Nya yang artinya :

“Apa saja yang menimpamu berupa kebaikan adalah dari Allah, dan apa saja yang menimpamu berupa keburukan adalah dari kesalahan dirimu sendiri” (QS. An-Nisa:79).

Suatu keburukan yang menimpa manusia bisa berupa aoa saja. Namun, apapun bentuk dari keburukan itu dan dari mana saja datangnya, yang jelas semuanya datang disebabkan oleh kesalahan dan kebodohan manusia sendiri

Lanjut Ke Halaman 3


Menelusuri Sumber-Sumber
Musibah Dalam Hidup

1.      Antara Dosa dan Kesengsaraan Hidup

Sadar lah bahwa semua yang dilakukan manusia, baik itu berupa kebajikan maupun keburukan tidak hanya akan membuah pahala dan dosa saja, Namun lebih dari sekedar itu perbuatan manusia baik buruknya akan berakibat pada “Nasib” hidup mereka, bukan hanya diakhirat tapi juga diakhirat namun juga didunia

Dosa Pasti Akan Menumbuhkan Kegelisahan Hati

Sebagai makhluk yang sudah di fitrahkan oleh Allah untuk selalu cenderung pada kebaikan, maka secara alamyiah kebaikan dengan segala bentuk dan aspeknya akan membuahkan ketentraman dalam diri manusia. Hal ini terbukti, secara psikologis ketika manusia melakukan perbuatan baik maka dalam hatinya akan terasa tentram dengan perbuatannya, begitupun sebaliknya.

Rasulullah Bersabda :

“ Dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di dalam hatimu dan kamu benci jika diketahui oleh orang lain”

Dari sini saja bisa disebutkan bahwa dosa tak akan pernah menyebabkan seseorang bisa merasakan kebahagian. Sungguh hati para ahli dosa tidak akan pernah bisa menikmati kebahagian hidup selama mereka masih berkutat pada lumpur dosa yang mengotori hatinya.

Dosa Pasti Akan Membuahkan Kesengsaraan Hidup

Sadarlah Bahwa sudah pasti perbuatan dosa itu akan mendatangkan adzab. Semua dosa pasti akan menuai ganjaran setimpal dalam bentuk siksa.Bagaimana pun dosa akan teap menyisakan sengsara. Untuk pertama kalinya perbuatan dosa akan menimblukan kegelisahan hati. Kalau dampak ini tidak ada, maka hati manusia sudah mati, jadi bagaimana pun juga dosa akan menyesengsarakan pelakunya. Dan kalaupun dampak ini tidak terlihat, maka dosa akan menyisahkan adzab Allah di akhirat, untuk dampak yang terakhir ini tingkat kesengsaraan dan kepedihan tentu amat sangat berat.

Dosa Penyebab Musibah Dunia

Al Qur’an, lewat kisah-kisah umat terdahulu sudah berulang kali menceritakan bahwa perbuatan dosa pasti akan menimbulkan petaka dunia.Allah SWT sendiri telah memperingatkan dalam sebuah ayat yang artinya :

“dan takutlah kamu dari siksaan yang tidak hanya secara khusus menimpa orang-orang yang dzhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaannya” (QS. Al Anfal:25)

Inilah dampak terbesar dari perbuatan dosa yang terasa di kehidupan dunia. Ternyata perbuatan dosa bukan saja akan mendatangkan adzab bagi seseorang secara pribadi yang menimpa pelaku dosa itu sendiri, tetapi lebih dari itu dosa juga bisa menurunkan adzab dimana adzab itu akan menimpa pada banyak orang meski mereka sama sekali tidak tahu apa-apa.

Lanjut Ke Halaman 2

Musibah; Antara Cobaan,
Peringatan dan Adzab Tuhan
(3)

6.      Allah Tak Pernah Membebani Diluar Kemampuan Kita

Ketahuilah bahwa sesedih apa pun perasaan yang saat ini Anda rasakan, semua itu adalah masih dalam ambang batas wajar. Yakinlah bahwa semua musibah segala macam bentuknya semua itu sudah didesain oleh Allah sesuai dengan ukuran kesabaran manusia. Sama sekali Allah tidak semerta-merta memberi cobaan kepada manusia dengan seenaknya sendiri. Dalam sebuah ayat Allah sudah berjanji akan hal itu.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah:286).

Berdasarkan kenyataan yang demikian, maka taka da istilahnya manusia yang tak sanggup bersabar dalam derita. Secara teori semua manusia mampu untuk tegar dalam menghadapi cobaan.

Pernah kah anda meresapi penderita Nabi Ayyub, Sungguh ngeri melihat cobaan hidup yang dijalani Nabi Ayyub. Kalau anda kini sedang menerima cobaan hidup, berat manakah beban derita yang dipikul oleh Ayyub? Kalau kini Anda sedang mengalami kebangkrutan dalam bisnis karena ditipu orang, apakah secara bersamaan itu juga ditinggal mati oleh putra putri tersayang? Atau saat ini Anda jatuh miskin padahal sebelumnya Anda adalah orang yang kaya raya, apakah anda jatuh sakit sampai 17 tahun dimana sakit itu orang-orang menjadi jijik melihat Anda? Hingga anda sampai diusir oleh orang kampung.

Kalu memang derita hidup kini Anda Tanggung tak seberat yang diterima Nabi Ayyub, maka itu masih bisa dikatakan beban yang ringan. Maka cobalah untuk tetap bersabar. Inilah kuncinya. Ingat, sebuah musibah jika tidak diiringi dengan kesabaran atau Anda tidak menerima kenyataan tersebut, tetap saja musibah itu akan menimpa .akan tetapi jika dihadapi itu dengan kesabaran meski dengan itu musibah pun akan tetap menimp. Namun setidak-tidaknya dengan sabar Anda bisa tegar. Dan Anda akan menemukan sesuatu yang berharga dibalik musibah.

7.      Badai Pasti Berlalu

Secara teori kehidupan di bumi, diciptakan oleh Allah secara berpasang-pasangan dan saling berjodohan. Alah sendiri telah menyatakan hal tersebut dalam salah satu firman-Nya yang artinya:

“ Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah “ (Adz Dzaariyat:49)

Maksud berpasang-pasangan disini adalah saling berjodohan, saling melengkapi dan saling terkait satu sama lalin. Secara Dzahir berpasangan-pasangan memang menunjukan arti yang berlawanan, akan tetapi dibalik ketidaksamaan tersebut terdapat unsur saling melengkapi antar satu dengan yang lainnya. Atas dasar inilah maka secara teori semua hal yang berpasang-pasangan tidak bisa dipisah-pisahkan. Meskipun adanya tidak secara bersamaan, maka pasti keberadaannya akan menyusul kemudian.

Lihatlah ketika Allah menciptakan siang Allah juga menciptakan malam, saat membuat matahari Allah juga menciptakan bulan. Dalam kenyataan hidup juga demikian ada besar-kecil, kaya-miskin, panjang-pendek, begitu seterusnya.

Ketahuilah bahwa kebahagian dan kesedihan tak ubahnya seperti siang dan malam, saat anda sedang dirundung sedih, pada saat bersamaan  anda sedang menanti datangnya kebahgiaan, dan ketahuilah bahwa adanya kebahagian sesudah kesedihan adalah merupakan ketetapan yang Tuhan gariskan dalam kehidupan manusia. Lihatlah Allah sendiri sudah menyatakan:

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.
(QS. Al Insyirah:4-5)


Lewat ayat diatas Allah ingin menandaskan sekaligus ingin menekankan berkali-kali kepada manusia bahwa kenyataan hidup memang seperti itu. Adapun Allah sampai mengulanginya dua kali adalah karena sepenuhnya Allah Maha Tahu bahwa manusia tak bisa mudah begitu saja mempercayai bawa mereka  setelah menemukan kesulitan dibalik itu ada kemudahan. Maka Allah pun menegaskan nya sekali lagi. Tujuannya jelas supaya manusia yakin sepenuhnya akan kenyataan hukum alam bahwa ada kesusahan ada kebahagiaan. Ada kesulitan ada kelapangan. Ada penderitaan pasti akan muncul kedamaian.

Musibah; Antara Cobaan,
Peringatan dan Adzab Tuhan
(2)


3.      Boleh Jadi Semua Itu Adalah Peringatan

Ada persamaan antara cobaan dengan peringatan adalah terletak pada masalah kepada siapa musibah itu di berikan. Kalau sebelumnya sudah dijelaskan bahwa cobaan itu hanya diberikan kepada mereka yang beriman dengan maksud untuk menguji seberapa jauh keimanan orang tersebut, maka demikian halnya dengan peringatan Tuhan, dengan diberinya cobaan dimaksudkan supaya seseorang bisa bersabar. Begitu juga dengan diberikannya peringatan diharapkan seseorang kembali lagi pada jalan yang benar.

Sisi perbedaan antara cobaan dan peringatan. Cobaan sebagaimana tadi dijelaskan tidak didahului dengan sebab-sebab perilaku yang buruk. Bahkan jika menilik firman Allah SWT pada surat Al Ankabut ayat 2, kita bisa menyimpulkan bahwa cobaan hanya diberikan atas dasar kebaikan seseorang. Makanya tujuan murni cobaan adalah untuk menguji, bukan untuk memperingatkan apalagi untuk menyiksa. Sedangkan peringatan  itu biasanya didahului dengan perilaku salah atau dosa yang diperbuat oleh seseorang

4.      Semoga Semua Itu Bukan Adzab Tuhan

Kemungkinan terakhir dari adanya sebuah musibah adalah sebagai siksa. Na’udzubillah! Semoga kita di jauhkan oleh Allah dari adzab-Nya. Siksa adalah sebuah balasan setimpal dari perbuatan dosa. Adanya siksa dimaksudkan agar manusia merasakan kepedihan akibat dari perbuatan jahat yang mereka lakukan. Kita bisa memastikan apakah sebuah kepahitan hidup yang menimpa itu merupakan siksa atau bukan adalah sejauh apa kita pernah melakukan dosa atau  tidak diwaktu-waktu sebelumnya.

“ Dan Allah sekali-sekali tidak akan mengadzab mereka, sedangkan kamu (Muhammad masih) berada diantara mereka Dan tidak (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun (selalu beristighfar)”. (QS. Al Anfal:33).

Kata Adzab dalam ayat diatas merujuk kepada adzab dunia. Artinya Allah tidak akan mengadzab seseorang selagi orang itu selalu banyak beristighfar. Banyak beristighfar disini bisa diartikan sebagai “Banyak melakukan kebajikan”. Artinya allah tidak akan mengadzab seseorang selagi orang itu selalu berada dalam amal kebajikan. Allah hanya memberikan siksa berupa bencana hidup pada mereka yang sudah keterlaluan dalam melakukan dosa dan kemaksiatan .

Sungguh, sekali lagi Allah tidak akan menurunkan siksa kepada manusia secara umum jika memang mereka selalu berada dalam kebaikan. Bahkan jika mereka selalu dalam jalan kebenaran Allah pun malah akan menurunkan karunia nikmat-Nya, jika sebaliknya  maka pasti Allah akan menurunkan siksaan tersebut. Dan hal ini berlaku secara umum maupun pada perseorangan secara khusus.

5.      Dibalik Musibah Ada Rencana Tuhan Yang Sudah Dipersiapkan

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui “
(QS. Al Baqarah:216).

Lewat ayat diatas belum tentu sesuatu yang selama ini kita benci keredaannya itu pasti akan berakibat buruk, bahkan boleh jadi hal tersebut malah menyimpan sebuah kebaikan dalam kehidupan kita. Begitu pula sebaliknya, semua karunia biasanya  membuat hati berbunga-bunga karena semua mendambakan hal yang menggembirakan, padahal bukan semua hal yang bisa menyebabkan hati kita menjadi lega menerimanya itu pasti menyimpan kebaikan bagi kita dihari-hari kemudian, malah boleh jadihal tersebut menjadi sebuah petaka bagi kehidupan kita. Dalam hal ini Allah yang maha tahu, manusia tidak.


Memang untuck sementara waktu hikmah dibalik musibah itu bersifat ghaib bagi manusia, mereka tidak bisa mengetahuinya dan sekaligus tidak tahu bentuknya tetapi manusia akan mengetahui dengan pasti keberadaaan hikmah tersebut manakala derita hidup itu telah hilang. Dengan bergulirnya waktu akhirnya manusia tahu bahwa derita yang sebelumnya mereka rasakan ternyata tak lebih dari sebuah cobaan untuk menguji apakah ia pantas mendapatkna karunia besar atau tidak. Hanya itu.

Lanjut Ke Halaman 3

Musibah; Antara Cobaan,Peringatan dan Adzab Tuhan

1.      Memahami Arti Sebuah Cobaan
Saat anda sedang dirundung malang, saat anda sedih lantaran sakit hati,dan saat anda berduka karena tertimpa masalah, maka ada baiknya anda intropeksi diri sebelum menyimpulkan bahwa semua yang terjadi ini adalah takdir sang illahi. Yang harus kita lakukan dengan bersabar !bukan hanya itu kita juga harus intropeksi diri. Intropeksi diri adalah sebuah upaya untuk mengetahui kesalahan diri. Dengan intropeksi saat berada dalam kesedihan setidak-tidaknya seseorang akan tahu apakah kepedihan hidup yang telah menimpa itu benar benar dari Allah atau berasal dari kedzaliman orang lain atau malah sumber dari diri sendiri.

Sesungguhnya ada tiga kemungkinan yang bisa kita tebak menyikapi musibah hidup yang tengah terjadi, yaitu mungkin musibah tersebut sebagai cobaan, mungkin sebagai peringatan, dan mungkin sebagai adzab tuhan.

Cobaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “ Suatu yang biasa digunakan untuk menguji”. Dari pengertian ini, jenis cobaan masih bersifat umum dan bisa berupa fenomena apa saja, bukan hanya sesuatu yang menyakitkan, bahkan berupa suatu yang menyenangkan, dari sini saja, saat anda bersedih hati semestinya jangan menyangka bahwa seseorang yang mungkin anda lihat hidupnya bahagia itu tidak dalam kondisi “di uji” oleh Allah

Dalam al-qur’an Allah sendiri telah berfirman :
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:“Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?.”
(QS. Al Ankabut:2)

Pengertian yang bisa ditemukan dari ayat diatas adalah bahwa ketika seseorang sudah mengaku bahwa ia telah beriman,   maka pada saat itulah Allah pasti akan mengujinya. Disinilah keimanan itu butuh pembuktian.Dari sini pula kita bisa menemukan pemahaman bahwa cobaan hanya diberikan Allah kepada hambanya yang baik baik saja tau beriman. Cobaan tidak berikan kepada orang-orang yang punya banyak kejelekan, sebab cobaan diberikan untuk ujian bukan penyiksaan.

2.      Percayalah, Anda Tidak Sendiri Dalam Sedih

Dalam sedih, cobalah menanamkan kesadaran bahwa anda tak sendiri merasakan kepedihan ini. Masih banyak orang yang mengalami nasib sama. Sadarlah disana juga lebih banyak air mata yang tertumpa.

Lihatlah kerumah sakit banyak orang yang berbaring sakit yang tidak bisa  menikmati hiduup dengan semestinya. Atau cobalah lihat, betapa banyak orang yang saat ini sedang dikukung kebebasannya didalam penjara. Mereka tidak bisa menikmati indahnya kebebasan. Atau bayangkan saja, kehidupan orang-orang yang miskin hidupnya di kolong-kolong jembatan atau du tempat-tempat yang kumuh, saat hujan mereka tidak bisa tidur nyenyak.


Jika dibandingkan dengan mereka, siapakah yang lebih menderita? Apakah anda punya nasib seperti mereka, atau anda punya kesulitan dalam hal ekonomi?. Jika memang demikian cobalah menyadarkan diri bahwa orang-orang yang hidup dalam rumah mewah belum tentu ia tak punya masalah yang sama dengan anda.

Lanjutan Ke Halaman 2

Saturday, December 9, 2017




Contoh Pendahuluan Makalah dengan Judul Lingkungan Kerja :

 LINGKUNGAN KERJA 


<LOGO KAMPUS>


MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Magang
Pada Program Studi Manajemen Informatika


Disusun Oleh:
                 Nama   : Leo Bagya
                 NIM    : 1511111117


POLITEKNIK MAHASISWA MUDA
SERANG-BANTEN
2017





                                                                                                                                                                   


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang

Lingkungan kerja merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan selain manajamen yang baik pada sebuah instansi maupun perusahaan, walaupun lingkungan kerja tidak menyentuh ruang produksi, namun lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap pegawai ataupun karyawan yang melaksanakan proses produksinya, lingkungan kerja yang baik, akan membantu paran pegawai atau karyawan untuk menciptakan sebuah produk yang baik, karena para pekerja bekerja dengan sepenuh hati dan nyaman untuk berproses. Mengenai pengertian pada lingkungan kerja, ada dua sub kata yang harus kita pahami yaitu lingkungan dan kerja. Apa ituh lingkungan dan apa itu kerja, kemudian setelah kita paham keduanya kita bisa menggabungkannya untuk menemukan sebuah pengertian yang pas.
Pengertian lingkungan, ketika kita berbicara tentang sebuah kata lingkungan akan muncul di benak kita yaitu tentang lingkungan hidup, memang dalam hal ini para ahli tidak terlalu tegas membedakan antara lingkungan dan lingkungan hidup, baik dalam kesehariannya maupun dalam forum ilmiah. Adapun pengertian lingkungan menurut Emil Salim, “lingkungan yaitu segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia”. Secara teoritis pada uraian tadi lingkungan mempunyai ruang lingkup yang tak terbatas jumlahnya, namun secara praktis ruang lingkup itu bisa kita batasi sesuai kebutuhuan yang telah ditentukan, misalkan dalam ruangan kantor ada meja, ac, bangku, dll.
Kemudian pengertian tentang kerja, sebetulnya kita paham tentang kerja tetapi untuk mengungkapkannya lumayan sulit, ada yang mengartikannya kerja adalah profesi, atau sebuah kegiatan yang mengeluarkan energi mental dan fisik untuk mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan. Memang tidak mudah dalam menemukan pengertian dalam suatu kata, butuh pemikiran yang kritis dan mendalam agar menemukan kalimat yang pas untuk menggambarkan tentang kerja tersebut,  untuk membuka wawasan akan hal itu, penulis akan mencantumkan beberapa pengertian dari beberapa para ahli. Menurut Dr. Franz Von Magnis di dalam Anogara (2009 : 11), Kerja adalah “kegiatan yang direncanakan”, sedangkan menurut  Brown (dalam Anoraga, 1998) “ kerja merupakan penggunaan proses mental dan fisik dalam mencapai beberapa tujuan yang produktif ”. Pada uraian dua para ahli penulis bisa menyimpulkan bahwa kerja adalah sebuah proses kegiatan menggunakan fisik maupaun psikis yang sudah direncakan untuk mencapai sebuah tujuan atau mengasilkan produk.
Pada uraian diatas sebetulnya kita sudah cukup mampu untuk  mengartikan kata lingkungan kerja, untuk meyakinkan dan menambah wawasan saya akan mengutip penengertian lingkungan kerja dari beberapa para ahli, menurut Nitisemito (2001:183) mengemukakan bahwa ”Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Misalnya kebersihan, musik dan lain-lain”. Sedangkan menurut Sedarmayati (2009:21) “Lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di mana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok”. Dari beberapa uraian para ahli tentang lingkungan kerja bisa disimpulkan yaitu segala sesuatu di sekitar para pegawai/pekerja baik itu benda, kondisi, maupun keadaan, yang dapat mempengaruhi para pegawai/pekerja fisik maupun mental untuk menyelesaikan tugas tugas yang telah di bebankanya.

BTemplates.com

Total Page views

Search This Blog

Translate

Followers

Popular Posts

Blog Archive